This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label RELIGIUS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RELIGIUS. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Oktober 2012

MUSLIM NGANGGUR ?

Bagi seorang muslim yang telah mempelajari agamanya, tidak ada istilah “nganggur” dalam hidupnya. Mengapa demikian, bukankah di hadapannya ada pekerjaan-pekerjaan yang menguntungkannya di dunia dan akhirat. Sejak seorang bangun dari tidurnya hingga tidur kembali banyak sekali pekerjaan yang bisa dilakukan. Ada pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh hati, ada yang bisa dikerjakan oleh lisan, dan ada juga oleh anggota badan. Bahkan ada pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh hati, lisan, dan anggota badan secara bersamaan seperti shalat. Contoh pekerjaan yang bisa dilakukan oleh hati adalah memiliki aqidah/keyakinan yang benar –tentunya dengan mempelajari aqidah Islam yang benar-, berniat ikhlas, memiliki niat untuk mengerjakan amal saleh, meniatkan perbuatan biasa untuk dapat menjalankan ibadah, dan adanya keinginan untuk memberikan hal yang terbaik buat saudaranya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sampai ia menginginkan kebaikan didapatkan saudaranya sebagaimana ia menginginkan kebaikan didapatkan oleh dirinya.” (HR. Bukhari) Contoh pekerjaan yang bisa dilakukan oleh lisan adalah membaca Alquran dan mengajarkannya, berdzikir, memberikan nasihat, dsb. Sedangkan contoh pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh anggota badan adalah berbakti kepada kedua orang tua, membantu orang yang membutuhkan bantuan, bersilaturrahmi, menyingkirkan sesuatu yang mengganggu di jalan, mencari rezeki dengan cara yang halal dll. Di antara pekerjaan-pekerjaan di atas, ada pekerjaan yang paling ringan namun memiliki keutamaan yang besar, yaitu dzikirullah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ ؟" قَالُوْا بَلَى .قَالَ : ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى “Maukah kalian aku beritahukan amalan yang paling baik, paling suci di sisi Tuhan kalian, lebih meninggikan derajat kalian dan lebih baik daripada menginfakkan emas dan perak serta lebih baik daripada kalian bertemu musuh, lalu kalian pancung leher mereka dan mereka pancung leher kalian?!” Para sahabat menjawab, “Ya.” Beliau menjawab, “dzikirullah.” (Shahih At Tirmidzi 3/139 dan Shahih Ibnu Majah 2/316) Ada seorang sahabat yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam begitu banyak bagiku, maka beritahukanlah kepadaku amalan yang mudah aku tekuni.” Beliau menjawab: لاَيَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ “(Yaitu) tetap terusnya lisanmu basah karena menyebut nama Allah.” (Shahih at-Tirmidzi 3:139 dan Shahih Ibnu Majah 2:317) Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى اَلرَّحْمَنِ, خَفِيفَتَانِ عَلَى اَللِّسَانِ, ثَقِيلَتَانِ فِي اَلْمِيزَانِ, سُبْحَانَ اَللَّهِ وَبِحَمْدِهِ , سُبْحَانَ اَللَّهِ اَلْعَظِيمِ “Dua kalimat yang yang dicintai Allah Ar Rahman, ringan di lisan dan berat di timbangan, yaitu Subhaanallahi wa bihamdih, subhaanallahil ‘azhiim (artinya ”Maha Suci Allah sambil memuji-Nya dan Maha Suci Allah Yang Maha Agung”).” (HR. Bukhari dan Muslim) dan bersabda: أَحَبُّ اَلْكَلَامِ إِلَى اَللَّهِ أَرْبَعٌ, لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ: سُبْحَانَ اَللَّهِ, وَالْحَمْدُ لِلَّهِ, وَلَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ, وَاَللَّهُ أَكْبَرُ “Ucapan yang paling dicintai Allah ada empat, tidak mengapa bagimu memulai dari yang mana saja, yaitu: Subhaanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallallah wallahu akbar.” (HR. Muslim) Dzikir tersebut adalah dzikir mutlak, yakni dzikir yang dibaca kapan saja selama tidak bertepatan dengan dzikir muqayyad. SedangkanDzikir Muqayyad adalah dzikir yang ditentukan kapan dibacanya, misalnya dzikir setelah shalat, dzikir masuk atau keluar rumah, dzikir ketika makan dsb. Tidak bisa Dzikir Mutlak ini dibaca pada Dzikir Muqayyad. Contoh-contoh Dzikir Muqayyad 1. Dzikir Ketika Hendak Tidur بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا “Dengan nama-Mu ya Allah, aku mati dan hidup.” (HR. Bukhari dan Muslim) 2. Dzikir Ketika Bangun Tidur اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami mati dan kepada-Nyalah kami dibangkitkan.” (HR. Bukhari dan Muslim) 3. Dzikir Ketika Memakai Pakaian اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ كَسَانِي هَذَا( الثَّوْبَ ) وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ “Segala puji bagi Allah yang telah memakaikan aku pakaian ini dan mengaruniakanku tanpa jerih payah dariku.” (HR. Para pemilik kitab Sunan selain Nasa’i, Irwaa’ul Ghalil 7:47) 4. Dzikir Melepas Pakaian بِسْمِ اللهِ “Dengan nama Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: سِتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الجْنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذاَ وَضَعَ أَحَدُهُمْ ثَوْبَهُ أَنْ يَقُوْلَ: بِسْمِ اللهِ “Tirai yang menghalangi mata jin melihat aurat anak Adam adalah jika ketika melepaskan pakaiannya ia mengucapkan “Bismillah.” (HR. Tirmidzi 2:505 dan lainnya, Irwaa’ul Ghalil no. 49 dan Shahihul Jaami’ 3:203) 5. Doa Masuk WC اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ اْلخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan perempuan.” (HR. Bukhari dan Muslim) 6. Doa Keluar WC غُفْرانَكَ “Ampunan-Mu ya Allah, aku minta.” (HR. As-habus Sunan, selain Nasa’i, ia meriwayatkannya dalam Amalul Yaumnya) 7. Doa Sebelum Wudhu’. بِسْمِ اللهِ “Dengan nama Allah.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad) Adapun melafazkan niat wudhu’ “Nawaitul wudhuuu’a…dst”, maka hal ini tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di samping itu tempat niat adalah di hati. 8. Doa Setelah Wudhu’ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya.” (HR. Muslim) 9. Doa Keluar Rumah بِسْمِ اللهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ “Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.” (Shahih At Tirmidzi 3:151) 10. Doa Masuk Rumah بِسْمِ اللهِ وَلَجْنَا، وَبِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا، وَعَلَى رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا “Dengan nama Allah kami masuk, dengan nama Allah kami keluar dan kepada Tuhan kamilah bertawakkal.” (HR. Abu Dawud) Hadis ini menurut ahli hadis adalah dha’if, akan tetapi maknanya diperkuat oleh hadis shahih yang menerangkan bahwa setan tidak akan masuk ke dalam rumah yang disebut nama Allah ketika seseorang memasukinya, sehingga dapat diamalkan. 11. Doa Ketika Berangkat ke Masjid اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِى قَلْبِى نُورًا وَفِى لِسَانِى نُورًا وَاجْعَلْ فِى سَمْعِى نُورًا وَاجْعَلْ فِى بَصَرِى نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِى نُورًا وَمِنْ أَمَامِى نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِى نُورًا وَمِنْ تَحْتِى نُورًا . اللَّهُمَّ أَعْطِنِى نُورًا » “Ya Allah, jadikanlah dalam hatiku cahaya, di lisanku cahaya. Jadikanlah pada pendengaranku cahaya, pada penglihatanku cahaya, di belakangku cahaya, di depanku cahaya. Jadikanlah di atasku cahaya, di bawahku cahaya. Ya Allah, berikanlah aku cahaya.” (HR. Muslim) 12. Doa Masuk Masjid اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ . “Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu.” (HR. Muslim) 13. Doa Keluar dari Masjid اَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu sebagian karunia-Mu.” (HR. Muslim) 14. Dzikir Ketika Mendengar Adzan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ “Apabila kalian mendengar azan, maka ucapkanlah kata-kata yang sama dengan yang diucapkan muazin.” (HR. Muslim) Namun pada kalimat “Hayya ‘alash shalaah dan Hayya ‘alal falaah”, yang kita ucapkan adalah “Laa haula wa laa quwwata illaa billah” berdasarkan riwayat Muslim juga. Tentang keutamaannya disebutkan dalam riwayat Muslim bahwa orang yang mengucapkan kata-kata yang sama dengan yang diucapkan muazin dengan ikhlas dari hatinya, maka ia akan masuk surga. Setelah selesai meniru ucapan muazin, kita dianjurkan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, misalnya mengucapkan“Allahumma shalli wa sallim ‘alaa nabiyyinaa Muhammad” atau bershalawat secara sempurna seperti shalawat dalam shalat setelah tasyahhud. Setelah itu orang yang mendengar adzan dianjurkan mengucapkan: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ (HR. Bukhari, adapun tambahan “Innaka laa tukhliful mii’aad” menurut Syaikh Masyhur Hasan Salman adalah syaadz) 15. Berdzikir Setelah Shalat Berikut ini di antara dzikir setelah shalat yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ x3 اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ. سُبْحَانَ اللهِ 33 , اَلْحَـمْدُ ِللهِ 33, اَللهُ أَكْـَبرُ 33 لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Setelah itu, dilanjutkan dengan membaca ayat kursiy dan membaca surat-surat mu’awwidzat (Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas), lih. Hisnul Muslim karya Sa’id al-Qahthaniy. 16. Membaca Dzikir Pagi dan Petang Dzikir pagi waktunya dimulai dari setelah shalat Subuh –setelah membaca dzikir setelah shalat- sampai terbit matahari. Sedangkan dzikir petang waktunya dari setelah shalat ‘Ashar sampai tenggelam matahari. Adapun dzikir pagi-petang di antaranya adalah: 1. Membaca ayat kursi (HR. Hakim dan dishahihkan oleh al-Albani). 2. Membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas, masing-masing 3 x (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). 3. Membaca dzikir-dzikir berikut: - اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّى ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، خَلَقْتَنِى وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَىَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِى ، فَاغْفِرْ لِى ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ (البخاري) - أَصْبَحْنَا (jika di sore hari "اَمْسَيْنَا")عَلىَ فِطْرَةِ الْإِسْلاَمِ وَكَلِمَةِ الْإِخْلاَصِ، وَدِيْنِ نَبِيَّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفاً مُسْلِماً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ (صحيح الجامع 4: 209) - سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ 3x (رواه مسلم) 17. Doa Sebelum Makan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللهِ، فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ “Apabila salah seorang di antara kamu makan, maka ucapkanlah “Bismillah” (tanpa tambahan Ar Rahmaanir rahiim -pen). Jika lupa, maka ucapkanlah “Bismillah fii awwalihi wa aakhirih.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Setelah makan doanya adalah: اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَذَا، وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ “Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan mengaruniakanku tanpa jerih payah dariku.” (HR. Pemilik kitab Sunan selain Nasa’i) Adapun doa “Al Hamdulillahilladzii ath’amanaa wa saqaanaa wa ja’alanaa minal muslimin” Syaikh Al Albani mengatakan bahwa isnadnya dha’if (lih. Tahqiq Al Kalimith Thayyib oleh Syaikh al-Albani). Oleh: Marwan bin Musa Artikel www.PengusahaMuslim.com

Jumat, 05 Agustus 2011

PUASA …. INGAT KURMA!

Kurma Segar (Kurma Basah)
Kurma segar mengandung kadar air dan vitamin yang lebih banyak tetapi rendah kandungan energi siap pakainya. Kandungan gula pada kurma ini mudah dicerna oleh tubuh.
Banyak manfaat kurma basah, antara lain; dapat mengontrol laju gerak rahim, menambah masa systole (kontraksi jantung ketika darah dipompa ke pembuluh nadi), mencegah terjadi pendarahan pada perempuan ketika melahirkan serta mempercepat proses pengembalian posisi rahim seperti sedia kala sebelum waktu hamil yang berikutnya. Hal ini karena dalam kurma segar terkandung hormon yang menyerupai hormon oxytocine yang dapat membantu proses kalahiran.

Kurma Kering
Kurma yang tidak segar (kering) tinggi akan kandungan energi siap pakai namun kandungan air dan beberapa vitamin lebih rendah, bahkan kandungan vitamin C-nya hilang. Kurma Kering berfungsi untuk menguatkan sel-sel usus dan dapat membantu melancarkan saluran kencing karena mengandung serabut-serabut yang bertugas mengontrol laju gerak usus dan menguatkan rahim terutama ketika melahirkan.

Kandungan Kurma
Umumnya buah Kurma mengandung zat-zat berikut Gula (campuran glukosa, sukrosa, dan fruktosa), protein, lemak, serat, vitamin A, B1, B2, B3, potasium, kalsium, besi, klorin, tembaga, magnesium, sulfur, fosfor, dan beberapa enzim.

Manfaat Sebagai bahan makanan :
Selain dimakan langsung, dikeringkan, juga digunakan sebagai bahan tambahan pada roti, coklat, sereal, penganan ringan, dan lain-lain.

Obat :
1. Buah kurma dapat mencegah stroke.
2. Buah kurma mengandung vitamin A yang baik dimana ia dapat memelihara kelembaban dan kejelian mata, menguatkan penglihatan, pertumbuhan tulang, metabolisme lemak, kekebalan terhadap infeksi, kesehatan kulit serta menenangkan sel-sel saraf.
3. Buah kurma yang direbus dapat memperlancar saluran kencing.
4. Buah kurma, baik kering maupun basah dapat menenangkan sel-sel saraf melalui pengaruhnya terhadap kelenjar gondok. Oleh karena itu, para dokter menganjurkan untuk memberikan beberapa buah kurma di pagi hari kepada anak-anak dan orang yang lanjut usia, agar kondisi kejiwaannya lebih baik.
5. Kurma mengandung potasium yang tinggi. Potasium bermanfaat untuk mengendalikan tekanan darah, untuk terapi darah tinggi, serta membersihkan karbon dioksida dalam darah. Potasium juga bermanfaat untuk memicu kerja otot dan simpul syaraf.
6. Mengkonsumsi 100 gram kurma, dapat menurunkan kadar kolesterol darah dengan menghambat penyerapan lemak atau kolesterol dalam usus besar sehingga kadar kolesterol dalam darah menurun.
7. Berbagai mineral yang diperoleh dari kurma bermanfaat untuk mengoptimalkan kandungan elektrolit dalam cairan tubuh.
8. Mengandung zat tannin yang tinggi yang dapat digunakan untuk anti-diare, anti-hemostatis, dan anti-hemoroid
9. Obat flu, radang tenggorokan.
10. Mengatasi mabuk
11. Meningkatkan thrombosit pada penderita demam berdarah
Tips Bagi Penderita Demam Berdarah :
Untuk yang telah positif terjangkit DBD, Anda bisa mengobatinya dengan membuatkan Jus Kurma. Caranya : Ambil 500 gram kurma, buang bijinya lalu diblender dengan 5 gelas air sampai lembut. Minumkan pada penderita setiap jam, satu gelas sampai habis.

MINUM HANGAT UNTUK BERBUKA

Sumber: Tribun News

Setelah seharian berpuasa memang paling enak minum air es yang terasa segar di mulut. Namun tahukah Anda kebiasaan minum minuman dingin saat berbuka puasa adalah kebiasaan yang tidak sehat.

"Biasanya saat berbuka umat muslim langsung menghilangkan dahaga dengan air es. Saya sarankan sebaiknya hal tersebut jangan dilakukan karena dapat menyebabkan konstraksi pada lambung," jelas Sekretaris Ikatan Dokter Indonesia Kalimantan Barat, dr Nursyam, M.Kes di Sungai Raya, belum lama ini.

Dr Nursyam menyarankan saat berbuka puasa ada baiknya dibuka dengan meminum air manis hangat untuk menstabilkan lambung yang kosong selama menjalankan puasa.

"Setelah lima sampai sepuluh menit, silakan minum air es karena kondisi perut sudah stabil. Namun alangkah baiknya jika diisi dulu dengan makanan yang manis seperti kurma dan kolak," tuturnya.

Nursyam menjelaskan selama 14 jam lambung dalam keadaan kosong. Jika langsung diisi dengan air dingin, maka lambung akan terkejut dan menyebabkan konstraksi.

Mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kubu Raya itu menambahkan, dalam menjalankan puasa pada saat akan tidur malam dan saat sahur ada baiknya memperbanyak minum air putih sampai dua liter.

Lalu memperbanyak makan sayur dan buah berserat juga bisa menjaga daya tahan tubuh serta mengurangi lapar. Selain itu, makanan berserat juga bisa menahan daya tampung air di dalam lambung.

Minggu, 12 Juni 2011

KISAH MALAM PERTAMA

Syuraih Al Qadhi pernah menceritakan kehidupan rumah tangganya kepada seorang sahabat, Asy Sya'bi. "Sejak dua puluh tahun yang lalu aku tidak pernah melihat istriku berbuat sesuatu yang membuatku marah," kata Syuraih.

"Mengapa demikian?" tanya As Sya'bi.

"Mulai malam pertama yang pertama aku lihat padanya adalah keindahan dan kecantikan belaka. Pada malam pertama, aku berniat dalam hati unutk menjalankan shalat dua rakaat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Ketika aku menoleh untuk melakukan salam, aku melihat istriku pun mengulurkan tangannya seraya berkata, 'Selamat datang wahai Abu Umayah. Alhamdulillah aku memuji dan memohon pertolongan-Nya. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad saw. dan keluarganya. Sungguh, aku adalah perempuan asing bagimu. Aku sama sekali tidak tahu akhlakmu. Terangkanlah kepadaku apa-apa yang engkau senangi dan yang tidak engkau senangi. Apa-apa yang engkau senangi akan aku penuhi, sedangkan yang tidak engkau sukai aku akan berusaha menjauhinya.'

'Aku yakin,' lanjut istriku, 'diantara kaummu pasti ada orang yang ingin mengawinkan wanitanya denganmu. Begitu pula kaumku, ada laki-laki yang sekufu denganku. Akan tetapi, apa yang telah ditetapkan Allah harus dilaksanakan. Nah sekarang aku telah menjadi milikmu. Lakukanlah sesuai dengan yang telah diperintahkan Allah. Aku mengucapkan ini dengan memohon ampun kepada Allah untukku dan untukmu.'

Demi Allah, Sya'bi, dalam keadaan seperti itu akan amat membutuhkan khutbah seperti yang diucapkan istriku," papar Syuraih kepada sahabatnya.

Aku pun menyambut ungkapan istriku, "Alhamdulillah segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad saw. dan keluarganya. Engkau telah mengatakan sesuatu yang jika engkau teguh memegangnya maka itulah bagianmu. Jika engkau hanya berpura-pura maka menjadi hujjah atasmu. Apa yang kamu lihat baik maka sebarkanlah, apa yang engkau lihat jelek maka buanglah jauh-jauh."

"Apakah engkau senang mengunjungi keluargaku?" tanya istriku.

"Aku ingin suami anak perempuanku tidak membosankanku," jawabku.

"Siapa saja tetangga yang kamu senangi yang dapat aku izinkan masuk rumah? Siapa pula yang kau benci agar aku tidak membiarkannya masuk ke rumahmu?" tanya istriku.

"Maka, aku pun menghabiskan malam pertama tersebut dengan perbincangan penuh dengan kelembutan dan kebahagiaan. Aku hidup bersamanya. Selama satu tahun pertama, aku tidak pernah melihat darinya, kecuali yang menyenangkan," ungkap Syuraih.

Demikianlah Syuraih menceritakan kebahagiaan keluarganya kepada As Sya'bi. Dari ceritanya, tampak suasana malam pertama Syuraih dengan istrinya yang sedemikian indah. Mereka bercengkerama, saling membuka diri, saling mengenali. Itulah awal kehidupan baru yang indah.

Senin, 09 Mei 2011

CITRA DIRI ?

Pendidikan merupakan sarana membentuk jati diri seseorang. Pencarian dan pembentukan jati diri tidaklah lepas dari siapa yang dicontoh?
Siapakah yang idolakan?
Siapakah yang ikuti?
Siapakah yang selama ini menjadi panutan dalam kebiasaannya?
Inikah idolamu ?
Idola sangat besar dalam pembentukan karakter diri. ingatlah masa depan yang panjang adalah masa depan kejujuran yang kan menyelamatkan anak -anak kita.

Kamis, 07 Oktober 2010

DOA ORANG MUKMIN

Tawakal adalah merupakan derajat keimanan seseorang yang selalu dalam ketundukan kepada Alloh dan ikhtiar yang besar di jalan yang benar.Kedekatan terhadap Alloh salah satu unsur tersendiri dalam penilaian derajat tawakal disisiNya. Doa - doa orang yang beriman merupakan salah satu urusan disisiNya yang tiada diragukan oleh siapapun. Doa seorang mukmin merupakan senjata terakhir untuk menggapai apa yang diinginkan. Senjata yang ketajamannya tergantung kebersihan hati seseorang baik disisi manusia ataupun di sisi Yang Kuasa. Doa dalam sehari hari dapat dilihat disini

DOA-DOA HARIAN



Jumat, 27 Agustus 2010

PANDUAN I'TIKAF

PANDUAN I’TIKAF
بسم الله الرحمن الرحيم
1. Pengertian I’tikaf .
الاعتكاف هو اللبث في المسجد من شخص مخصوص بنية.
Menetap dan berdiam diri diMasjid oleh seseorang tertentu , dengan berniat I’tikaf. (Al Majmuk Syarah Muhazzab- Imam Nawawi juz 6 Ms 474 , Cetakan Darul Fikar/ Al Fiqh ala Mazahibil Ar Ba’ah—Al Jazairi — Kitab al I’tikaf./ At Ta’rifat – Al Jarjani m.s. 31.)
Maksudnya: I’tikaf disini merupakan satu bentuk ibadat dengan cara menetap di sebuah Masjid dgn tujuan untuk beribadat yang dilakukan oleh seseorang pada saat berpuasa dengan cara yang telah ditentukan oleh Syara’.

2. Asas di Syariat kan I’tikaf .
Asas atau dalil diSyara’kan I’tikaf pada sepuluh akhir Ramadhan ialah
عن عائشة رضى الله عنها , أن النبي صلى الله عليه وسلم يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفاه الله ثم اعتكف أزواجه من بعده .
Dari Aisyah ra. , Bahawa Nabi saw selalu berI’tikaf pada sepuluh akhir bulan Ramadhan hingga diwafatkan oleh Allah Ta’ala , kemudiannya diteruskan sunnah I’tikaf selepasnya oleh Para
Isteri Baginda saw. (Muttafaqun Alaih.– Sahih Bukhari -Bab Al I’tikaf fil asyri al awakhir / Sahih Muslim – Kitabul I’tikaf.)
عن أبي هريرة رضى الله عنه قال : كان صلى الله عليه وسلم يعتكف في كل رمضان عشرة أيام . فلما كان العام الذى قبض فيه اعتكف عشرين يوما.
Dari Abi Hurairah ra. , Beliau berkata : Adalah Nabi saw selalu berI’tikaf pada tiap- tiap sepuluh Ramadhan yang terakhir. Ketika beliau diwafatkan , Beliau telah berI’tikaf selama dua puluh hari. (Sahih Bukhari—Bab Al I’tikaf fil asyril aakhir..)
karena itu jelaslah bahwa I’tikaf pada sepuluh akhir Ramadhan adalah Sunnah yang diamalkan
secara berkekalan oleh Nabi saw dan Para Isteri Baginda saw dan juga Para Sahabat ra.
3. Hukum I’tikaf.
Telah sependapat seluruh Imam Mazhab yang empat dan seluruh Umat Islam, bahwa Hukum I’tikaf pada sepuluh akhir Ramadhan adalah “Sunah Mu akkadah”. Bertujuan mengikuti Sunnah Nabi saw dan mencari fadhilah Lailatul Qadar. (Raudhah At Tholibin—Imam Nawawi, juz 2 hal 255, Cetakan Darul Al Kutub Al Alamiyah, Bairut tahun 2000. / Syarah Sahih Muslim — Imam Nawawi juz 8 hal. 67, Darul Tsaqofah )
Tiadk ada khilaf bahwa Tidak Wajib I’tikaf melainkan apabila bernazar dengannya(Fathul Baari- Ibni Hajar Al Asqolani juz 4 hal 319, Darul Rayyan.)
4. Fadhilah I’tikaf.
عن ابن عباس رضى الله عنهما عن النبى صلى الله عليه وسلم قال: ومن اعتكف يوما ابتغا وجه الله جعل الله بينه وبين النار ثلاث خنادق . كل خندق أبعد مما بين الخافقين .
Dari Ibnu Abbas ra., dari Nabi saw , beliau bersabda: Dan barangsiapa ber I’tikaf satu hari kerana mengharap keredhoaan Allah , niscaya Allah jadikan diantaranya dan antara Api Neraka (berjauhan) tiga puluh parit, dimana jarak diantara tiap-tiap satu parit lebih jauh daripada jarak antara dua mata angin. (At Thobarani dan Al Hakim.
Telah meriwayatkan oleh Athobarani dalam Al Awsath , “Isnadnya Jayyid”.—Majmak Zawaid- Bab Fadhli Qodho il Hawa ij. juz 8 hal 351 Cetakan Darul Fikar Bairut ,tahun 1994. Berkata Al Hakim “ Isnad yang Sahih”. – At Targhib wat Tarhib . Juz 2 hal. 149-150. )
5. Hikmah / Tujuan berI’tikaf.
Diantara Hikmah dan tujuan I’tikaf ialah:
a) Meluangkan diri dari kesibukkan duniawi ,demi mencari kejernihan jiwa dan membina kekuatan Rohani sebagai bekalan melancarkan kegiatan hidup dengan lebih baik. (Syarah Sahih Muslim –Imam Nawawi . juz 8 hal. 69, Darul Tsaqofah.)
b) Kalaulah Ramadhan merupakan bulan ujian yang akan memenuhkan rahmat untuk sepanjang tahun , maka I’tikaf pada 10 hari yang terakhir adalah merupakan satu keistimewaan yang lebih khusus dan lebih tinggi bagi mereka yang melakukannya.
c) Usaha-usaha mendapatkan lailatul Qadar adalah satu Sunnah Nabi saw.
I’tikaf diakhir Ramadhan , adalah merupakan salah satu dari usaha tersebut.
6. Rukun I’tikaf.
Rukun I’tikaf 4 perkara.
a) Tetap berada didalam Masjid, sekurang-kurang masanya sekadar Tama’ninah didalam ruku’ (sekadar beberapa saat). Tidak keluar dari Masjid melainkan atas sebab-sebab yang diharuskan Syara’. (Yaitu sebab-sebab yang tidak memutus dan membatalkan I’tikaf).
b) Niat pada permulaan I’tikaf atau pembaharuan niat semula (jika terbatal) ,
c) Orang yang berI’tikaf.
Seseorang yang berI’tikaf disyaratkan :
(1) Islam.
(2) Berakal.
(3) Bersih dari haidh dan nifas .
(4) Bersih dari hadas Junub. (Raudhah at Tholibin- juz 2 ,Ms 257, 262 / Fathul Wahhab – Syekhul Islam Zakaria Al Ansori, juz 1 Ms 126- 131 , Darul Fikar, Bairut)
c) Tempat I’tikaf , yaitu Masjid. (Al Majmuk. Juz 6 Ms 478 dan 483)
7. Cara berI’tikaf diakhir Ramadhan.
a) Mulai masuk keMasjid sebelum matahari terbenam (sebelum Maghrib) pada hari ke dua puluh Ramadhan , dengan berniat I’tikaf sepuluh hari terakhir dan keluar setelah selesai masa I’tikaf pada pagi A’idil Fithri atau setelah masuk waktu Maghrib pada malam Aidil Fithri. (Raudhah at Tholibin— juz 2 hal. 255.)
b) Diharuskan setiap orang yang berI’tikaf membawa hamparan khas miliknya kemasjid dan diharuskan juga mengambil mana-mana ruangan diMasjid sebagai tempat khas baginya, tetapi dengan syarat tidak menyempitkan (mengganggu) orang lain yang akan bersembahyang. (ويشق معه المقام لحاجته الى الفراش. (4) Mafhum daripada Ibarat Raudhah, Ms 273 )
c) Solat sunat Tahiyyatul Masjid dua rakaat, seterusnya tetap berada diMasjid melainkan jika berlaku perkara-perkara yang diharuskan keluar dari Masjid (yaitu tidak dianggap memutuskan I’tikaf ).
d) Harus menjalankan Ibadat I’tikaf yang sunat secara tidak penuh atau tidak berturut-turut . Misalnya :
BerI’tikaf hanya sehari atau dua hari sahaja nisbah kepada masa selama sepuluh hari diakhir Ramadhan, atau diselang-selikan harinya atau hanya berI’tikaf diwaktu malam sahaja atau sebagainya. (Mafhum daripada Ibarat Fuqaha , misalnya didalam Kitab Al Minhaj At Tholibin / Al Majmuk juzuk 6 m.s. 488. ثبت قدر يسمى عكوفا.)
8. Masjid-masjid untuk berI’tikaf.
a) Terafdhal adalah Masjid Haram di Mekah, diikuti Masjid Nabawi di Madinah , Masjid Aqsa di Baitul Maqdis , Masjid-masjid Jami’ (yang didirikan solat jumaat) umumnya menurut tertib , menurut besar dan ramainya ahli jemaah. (Al Umm—Imam Syafie. juzuk 2 m.s. 118. Darul Fikar, Bairut. / Al Majmuk juzuk 6 m.s. 482.)
b) Sah berI’tikaf didalam semua jenis Masjid. (Syarah Muslim juzuk 8 m.s. 68. / Al Majmuk juzuk 6 m.s. 283. )
c) Sah berI’tikaf didalam Masjid atau Suthuh nya ( atapnya yang lapang yang boleh diduduki ) , Menaranya yang berhubung dengan masjid. , Rohbahnya ( serambinya) atau diKawasan yang masih dinamakan Masjid. (Al Majmuk. Juzuk 6 m.s. 505-509 / Mughni Al Muhtaj juzuk 2 m.s. 202.)
9. Sebab-sebab yang mengharuskan keluar dari Masjid.
a) Qadha hajat.
Yaitu buang air besar dan buang air kecil.
b) Berwudhu.
Jika tiada kemudahan berwudhu didalam Masjid.
c) Menyuci najis.
Samada pada badan atau pakaian.
d) Sakit .
Sakit berat atau sakit yang boleh mencemarkan masjid.
e) Hadas Besar.
Semasa berI’tikaf, berhadas besar mewajibkan keluar dari Masjid, maka keluar tersebut tidak memutuskan I’tikaf. Keadaan ini berbeza jika berhadas besar sebelum berI’tikaf yang sememangnya tidak sah pada permulaannya lagi. (Fathul Wahhab juzuk 1 m.s. 129/130.)
f) Dipaksa keluar dari Masjid.
g) Makan.
Walaupun diharuskan makan didalam Masjid dengan syarat menjaga kebersihan, adalah dibolehkan keluar untuk makan diluar Masjid tanpa sebarang syarat.
h) Minum.
Jika ketiadaan air didalam Masjid.
i) Takut bahaya.
Kerana takut sebarang bahaya yang datang dari mana-mana pihak.
i) Kecemasan.
j) Keluar dengan terlupa. (Al Umm juzuk 2 m.s. 115./ Raudhah juzuk 2 m.s. 270–273. )
10. Huraian.
a) Keluar dari Masjid tanpa sebab yang dibolehkan , adalah membatalkan I’tikaf. Tidak dianggap keluar selagi tidak dengan seluruh tubuh . Termasuk dalam ertikata “Keluar” disisi Syara’ ,apabila seseorang itu berdiri dengan kakinya diluar Masjid sekalipun badannya , masih berada didalam Masjid. (Raudhah juz 2 hal. 270 / Al Majmuk juz 6 hal. 499)
b) Semua sebab-sebab yang dimaafkan /tidak membatalkan I’tikaf tersebut , setelah selesai , hendaklah segera kembali masuk kedalam Masjid dan tidak perlu mengulangi semula niat I’tikaf. Sebaliknya , jika setelah selesai atau hilang sebab-sebab tersebut , tidak pula segera masuk keMasjid, ianya akan membatalkan I’tikaf. Maka keadaan ini perlu diulangi semula niat I’tikaf .
c) Mimpi hingga keluar mani ,tidak membatalkan I’tikaf tetapi wajib segera keluar Masjid untuk mandi wajib. (Al Majmu’ juz 6 hal. 501 / Fathul Wahhab juz 1 hal. 130. )
d) Sembahyang Jumaat, bagi mereka yang berItikaf di Masjid yang tidak dibuat sembahyang Jumaat, hendaklah keluar dari tempat I’tikafnya untuk pergi ke masjid yang di buat Jumaat, dan I’tikafnya di anggap batal menurut Jumhur Ulamak. Maka diulangi semula niat I’tikaf bila mereka kembali semula. (Al Majmuk – juzuk 6 m.s. 513/.Raudhah juz 2 hal. 274.)
Maka difahamkan dari keadaan ini, bagi mereka yang sengaja pergi sembahyang jumaat di Masjid lain yang didirikan Jumaat padahal Masjid I’tikaf mengadakan Jumaat , akan membatalkan I’tikaf dan perlulah diulangi semula niatnya.
e) Mereka yang mempunyai sesuatu Kewajiban yang lebih utama dari I’tikaf Sunat , hendaklah keluar dari Masjid dan melaksanakannya, I’tikafnya adalah terbatal. Jika mereka kembali semula ke Masjid untuk berI’tikaf adalah disyaratkan mengulangi semula niat .
11. Perkara yang harus/boleh dilakukan ketika I’tikaf.
a) Berpakaian biasa.
b) Makan/minum didalam Masjid, tetapi disunahkan menggunakan alat-alat seperti hamparan supaya terpelihara kebersihan Masjid.
c) Memakai bau-bauan . ( Ketika berpuasa sebaik-baiknya ditinggalkan pada waktu siang).
d) Kerja-kerja yang ringan.
e) Menyambut tetamu, berbual dan menghantarnya pulang.
f) Sedikit jual-beli yang mustahak/ berhajat.
g) Berkahwin dan mengkahwinkan.
h) Bercukur, bersikat rambut dan mengerat kuku.
i) Belajar dan mengajar.
j) Tidur. (Al Umm juz 2 hal. 115 dan 118. / Raudhah juz 2 hal 259 / Al Mughni Al Muhtaj—Al Allamah Khatib Syarbini juz 2 hal. 192.. Darul Kutub, Tauzi’ , Bin Bazz Mekah. . )
11. Amalan-amalan semasa I’tikaf.
Pada dasarnya , tiada dalil yang khas untuk suatu bentuk amalan yang dibuat semasa I’tikaf selain dari anjuran agar bersungguh-sungguh beramal . Semua bentuk amalan taat boleh dilakukan semasa I’tikaf.
عن عائشة قالت : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجتهد فى العشر الأواخر ما لا يجتهد فى غيرها. ( a)
Maksudnya: Daripada Siti Aisyah r.anha, “Adalah Rasulullah saw bersungguh-sungguh (beribadat) pada hari –hari yang sepuluh di akhir Ramadhan , lebih banyak daripada (ibadatnya) pada masa-masa lain.” (Sahih Muslim –Bab Al Ijtihad fil Asyril Awakhiri)
عن عائشة قالت : كان النبي صلى الله عليه وسلم اذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله . (b)
Maksudnya: Daripada Aisyah r.anha. ” Adalah Rasulullah saw apabila masuk sepuluh akhir Ramadhan , bersungguh-sungguh Baginda mengerjakan ibadat , menghidupkan malamnya dan menggerakkan Isterinya dari tidur”. (Sahih Bukhari — Bab Al Amal fil Asyril Awakhiri min Ramadhan. / Muslim– Bab Al Ijtihad fil Asyril Awakhiri.)
(c) Adalah sangat baik bagi orang yang berI’tikaf memenuhi masanya dengan amalan-amalan taat seperti : Sembahyang , Membaca tasbih , zikir, Membaca Quran (khususnya tadarus) , Belajar dan Mengajar , Mentelaah Kitab dan Mengarang. (Al Majmuk juz 6 hal. 528.)
(e) Sebahagian Ulamak berpendapat bahawa dikehendaki agar setiap yang berI’tikaf hanyalah menumpukan masanya dengan amalan asas I’tikaf sahaja, yaitu Zikir , Sembahyang , Membaca Quran (sendirian) dan Doa. (Al Majmuk juz 6 hal. 528 / Mawahib Al jalil)
12. Realiti I’tikaf dalam masyarakat Islam.
Terlalu sedikit jumlah Umat Islam yang berI’tikaf pada sepuluh akhir Ramadhan jika dibandingkan dengan jumlah Umat Islam se jagat semenjak dulu lagi. Lantaran itu Ibnu Syihab Az Zuhri yang hidup dikurun terawal pernah menyuarakan,
عجبا للمسلمين . تركوا الاعتكاف والنبي صلى الله عليه وسلم لم يتركه منذ دخل المدينة حتى قبضه الله.
Maksudnya: Heran sekali keadaan Umat Islam. Mereka meninggalkan I’tikaf (akhir Ramadhan) sedangkan Nabi saw tidak pernah meninggalkan I’tikaf sejak Baginda datang ke Madinah Al Munawwarah sehingga Allah wafatkan Baginda”. (Fathul Baari juz 4 hal. 334– Bab I’tikaf fil Asyril Awasith..)
13.Anjuran.
Oleh yang demikian, tidak sepatutnya ditinggalkan satu Warisan yang sangat bernilai yang diwarisi dari Rasulullah saw, terutamanya bagi Para Pendakwah, Pendidik , Mereka yang terlibat dengan pendidikan , Penguasa dan Setiap yang terlibat dengan Pentadbiran untuk mendapatkan limpahan kekuatan rohani dan kejernihan fikiran melalui Ibadat I’tikaf Sahih yang penuh dengan Hikmah yang besar .
Wallahu a’lam.
LAMPIRAN.
Mengapa semestinya I’tikaf di Masjid?.
Jawab: Dalam kitab Al Majmuk muka surat 483 juz 6, Imam Nawawi menjelaskan sebab kenapa I’tikaf hanya sah dilakukan di Masjid sahaja.
قد ذكرنا أن مذهبنا اشتراط المسجد لصحة الاعتكاف . وأنه يصح فى كل مسجد.
Sesungguhnya telah kami nyatakan bahawasa Mazhab Kami (Syafie) mensyaratkan masjid untuk sah beri`tikaf, dan bahawasanya sah beri`tikaf didalam semua jenis Masjid (tanpa pengecualian)
واحتج أصحابنا بقوله تعالى (ولاتباشرهن وأنتم عاكفون فى المساجد ) ووجه الدلالة من الآية لاشتراط المسجد أنه لو صح الاعتكاف فى غير المسجد لم يخص تحريم المباشرة بالاعتكاف فى المسجد لاأنها منافية لللاعتكاف فعلم أن المعنى بيان أن الاعتكاف انما يكون فى المسجد واذا ثبت جوازه فى المسجد صح في كل مسجد.
Telah berhujah Ashab Kami (I`tikaf hanya sah dimasjid sahaja) dengan firman Allah Taala, surah Al-Baqarah Ayat .. “Dan jangan Kamu menyetubuhi wanita itu (Istri2 Kamu) padahal Kamu sedang beri`tikaf dalam Masjid2”. Wajhu dilalah dari ayat tersebut adalah mensyaratkan masjid sebagai tempat I`tikaf. Bahawasanya jikalau sahlah beri`tikaf di tempat selain Masjid, nescaya Allah Ta’ala tidak mengkhaskan ketentuan pengharaman jimak semasa I`tikaf semasa di dalam masjid, kerana bahawasa berjimak itu sendiri adalah menafikan kesahihan I`tikaf. Maka difahamai daripada makna ini, Adalah suatu keterangan bahawa I`tikaf hanyalah berlaku di dalam segala Masjid sahaja. Dan apabila sabitlah keharusan beri`tikaf dalam semua Masjid, maka sah beri`tikaf di dalam tiap2 Masjid tanpa pengecualian jenis ( sekalipun Masjid yang tidak didirikan sembahyang Jumaat).
Tammat, Al Majmuk.
Maka adalah difahami bahawa, surau tidak dianggap masjid dan tiada jenis I’tikaf didalamnya. Sekalipun begitu, tidak pula bermakna tiada keharusan beribadat didalam surau . Harus beribadat dimana-mana jua , Cuma kalau atas nama I’tikaf, tidak diistilahkan ibadat I’tikaf di surau .
Wallahu a’lam.

Jumat, 21 Mei 2010

SUKSES SETELAH INI !

Halangan? Bukan Masalah!
Dalam sebuah fase kehidupan, adakalanya seseorang terbentur oleh sesuatu. Benturan-benturan itu kadang menghalangi seseorang untuk terus maju dan berjuang. Yup.. Jangan Menyerah! mungkin dua kata itu itu yang sering diucapkan oleh orang-orang di sekitar. tapi, dalam beberapa kasus terdapat pula kuping-kuping yang sudah terlalu jenuh mendengar dua kata itu..
Adakalanya seseorang harus melihat. Sebuah penelitian psikologis pun menyebutkan bahwa otak lebih mudah menyerap apa yang dilihat daripada apa yang didengar. Soo.. untuk menafsirkan judul posting ini “Halangan? bukan masalah!”, saya coba untuk memuatnya lewat beberapa gambar berikut :




Kamis, 15 April 2010

TIPS BAHAGIA

24 Tips Menempuh Kehidupan
1. Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya, karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah. Semoga kamu menemukan orang seperti itu.
2. Ada saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat merindukan seseorang sehingga ingin hati menjemputnya dari alam mimpi dan memeluknya dalam alam nyata. Semoga kamu memimpikan orang seperti itu.
3. Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat kamu ingin pergi, jadilah seperti yang kamu inginkan,karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.
4. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup untuk membuatmu baik hati, cobaan yang cukup untuk membuatmu kuat, kesedihan yang cukup untuk membuatmu manusiawi, pengharapan yang cukup untuk membuatmu bahagia dan uang yang cukup untuk membeli hadiah-hadiah.
5. Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi acapkali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.
6. Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda bersamamu, tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan kemudian kamu meninggalkannya dengan perasaan telah bercakap-cakap lama dengannya.
7. Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita milik sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya.
8. Pandanglah segala sesuatu dari kacamata orang lain. Apabila hal itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin hal itu menyakitkan hati orang itupula.
9. Kata-kata yang diucapkan sembarangan dapat menyulut perselisihan. Kata-kata yang kejam dapat menghancurkan suatu kehidupan. Kata-kata yang diucapkan pada tempatnya dapat meredakan ketegangan. Kata-kata yang penuh cinta dapat menyembuhkan dan memberkahi.
10. Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cinta menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan.Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia.
11. Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya.
12. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum
bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas karunia itu.
13. Hanya diperlukan waktu semenit untuk menaksir seseorang, sejam untuk menyukai seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang tetapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang.
14. Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis, mereka yang disakiti hatinya, mereka yang mencari dan mereka yang mencoba. Karena hanya mereka itulah yang menghargai pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam hidup mereka.
15. Cinta adalah jika kamu kehilangan rasa, gairah, romantika da masih tetap peduli padanya.
16. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu dan mendapati pada akhirnya bahwa tidak demikian adanya dan kamu harus melepaskannya.
17. Cinta dimulai dengan sebuah senyuman, bertumbuh dengan sebuah ciuman dan berakhir dengan tetesan air mata.
18. Cinta datang kepada mereka yang masih berharap sekalipun pernah dikecewakan, kepada mereka yang masih percaya sekalipun pernah dikhianati, kepada mereka yang masih mencintai sekalipun pernah disakiti hatinya.
19. Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu,tetapi yang lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan tidak pernah memiliki keberanian untuk mengutarakan cintamu kepadanya.
20. Masa depan yang cerah selalu tergantung kepada masa lalu yang dilupakan, kamu tidak dapat hidup terus dengan baik jika kamu tidak melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.
21. Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba, jangan pernah menyerah jika kamu masih merasa sanggup jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.
22. Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu! Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang di hatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh dihatimu.
23. Ada hal-hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang kamu harapkan untuk mengatakannya. Namun demikian janganlah menulikan telinga untuk mendengar dari orang yang mengatakannya dengan sepenuh hati.
24. Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang disekelilingmu tersenyum - jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang disekelilingmu menangis.


Rabu, 31 Maret 2010

LIHAT KESIAPAN MUSUH ALLOH !!!

Fasilitas Militer Bawah Tanah Terbesar
Terletak di Swedia, Muskö merupakan fasilitas militer bawah tanah terbesar di dunia. Dipergunakan untuk Pangkalan Angkatan Laut.
Dibangun di bawah gunung batu granit, so pasti mustahil dihancurkan meriam, bom penghancur bunker bahkan rudal nuklir sekalipun.Musko digunakan untuk pembuatan kapal Fregat, Kapal Perusak dan kapal selam mempunyai dermaga terpanjang mencapai 350 meter.
Ada tempat perbaikan kapal, rumah sakit, diningrooms, barak, mall, meeting room dll, semua di bawah gunung.
Ada rumah sakitnya juga. Jika terjadi perang ribuan tentara terluka/cedera bisa dirawat di dalamnya dengan kapasitas rumah sakit mencapai 1000 tempat tidur.


Minggu, 21 Februari 2010

HAK ANAK -ANAK KITA

Etika terhadap Anak-anak oleh Abu Bakr Jabir al-Jazairi
Orang Muslim mengakui bahwa anak-anak mempunyai hak-hak atas ayahnya dan hak-hak tersebut wajib ditunaikan seorang ayah. Dan ia mempunyai etika-etika yang harus ia perhatikan dalam hubungannya dengan anak-anaknya.
Di antara hak anak-anak atas ayahnya ialah mencarikan ibu yang baik baginya, menamakannya dengan nama yang baik, menyembelih kambing pada hari ketujuh kelahirannya, mengkhitankannya, mengasihinya, lemah-lembut terhadapnya, menafkahinya, mendidiknya dengan baik, serius mengajarkan ajaran-ajaran Islam kepadanya, dan melatihnya mengerjakan ibadah-ibadah wajib dan ibadah-ibadah sunnah, menikahkannya jika ia mencapai usia baligh, memberi penawaran kepadanya apakah ia hidup serumah dengannya atau pindah ke rumah tersendiri jika telah menikah, dan membangun keluhurannya dengan tangannya sendiri. Itu semua berdasarkan dalil-dalil berikut:

Firman Allah Ta‘ala, "Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik." (Al-Baqarah: 233).
Firman Allah Ta‘ala, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakamya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tahrim: 6).
Pada ayat di atas terdapat perintah melindungi keluarga dari api neraka. Caranya dengan taat kepada Allah Ta‘ala, dan ketaatan kepada-Nya mengharuskan seseorang mengetahui hal-hal yang Allah wajib ditaati di dalamnya, dan ini tidak bisa diketahui kecuali dengan pengajaran. Karena anak termasuk keluarga seorang ayah, maka ayat di atas menjadi dalil tentang kewajiban seorang ayah untuk mengajari anaknya, membinanya, membimbingnya, membawanya kepada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan menjauhkan daripadanya kekafiran, kemaksiatan, kerusakan, dan keburukan. Agar, dengan cara itu semua, seorang ayah bisa melindungi anaknya dan api neraka.
Pada ayat sebelumnya, "Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya", terdapat dalil tentang kewajiban seorang ayah untuk menafkahi anaknya, sebab nafkah yang harus diterima ibu yang menyusui adalah karena ibu tersebut menyusui anaknya.
Allah Ta‘ala berfirman, "Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut kemiskinan." (Al-Isra': 31).
Sabda Rasulullah saw. ketika beliau ditanya tentang dosa terbesar, maka beliau bersabda, "Engkau menjadikan Tuhan tandingan bagi Allah, padahal Allah yang menciptakanmu, atau engkau membunuh anakmu karena khawatir ia makan bersamamu, atau engkau berzina dengan istri tetanggamu." (Muttafaq ‘Alaih).
Larangan membunuh anak-anak mengharuskan seorang ayah mengasihi anak-anaknya, lemah lembut terhadap mereka, menjaga badan mereka, melindungi akal, dan jiwa mereka.
Tentang aqiqah untuk anak, Rasulullah saw. bersabda, "Seorang anak tergadaikan dengan (kambing) aqiqah yang disembelih untuknya pada hari ketujuh kelahirannya, ia diberi nama pada hari tersebut, dan rambutnya dicukur." (Diriwayatkan para pemilik Sunan dan At-Tirmidzi men-shahih-kan hadits ini).
Sabda Rasulullah saw., "Fitrah itu ada lima: Khitan, mencukur rambut di sekitar kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu di ketiak." (Diriwayatkan Jama'ah).
Sabda Rasulullah saw., "Muliakanlah anak-anak kalian dan didiklah mereka dengan baik, karena sesungguhnya anak-anak kalian adalah hadiah untuk kalian." (HR Ibnu Majah dengan sanad yang dhaif).
Sabda Rasulullah saw., "Samakan anak-anak kalian dalam pemberian, karena jika aku dibolehkan mengutamakan seseorang maka aku akan mengutamakan anak-anak perempuan." (HR Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani. Al-Hafidz meng-hasan-kan hadits ini dengan sanadnya).
Sabda Rasulullah saw., "Ajarilah anak tentang shalat pada usia tujuh tahun, dan pukul mereka jika mereka tidak mengerjakannya pada usia sepuluh tahun, serta pisahkan mereka dalam tempat tidur." (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi meng-hasan-kan hadits ini).
Disebutkan dalam salah satu atsar bahwa hak anak atas ayahnya ialah hendaknya ayahnya mendidiknya dengan baik, dan menamakannya dengan nama yang baik.
Umar bin Khaththab ra berkata, "Di antara hak anak atas ayahnya ialah hendaknya ayahnya mengajari tulisan, memanah, dan tidak memberinya makan kecuali dari rizki yang halal dan bagus."
Diriwayatkan bahwa Umar ra berkata, "Nikahlah di kamar yang baik, sesungguhnya akhlak ayah itu menurun kepada anaknya."
Salah seorang Arab dusun memilihkan untuk anaknya seorang ibu yang baik, kemudian ia berkata,
Kebaikanku yang pertama kepada kalian
Ialah aku memilih wanita yang baik asal-usulnya, dan suci
Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 135-138.